Tadi pagi melihat berita di TV tentang pembakaran barang bukti pakaian illegal impor di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam prosesi pembakaran tersebut, banyak warga tak mampu yang berebut pakaian barang bukti yang dibakar tersebut. Penyiar di TV menyatakan bahwa kejadian ini terjadi akibat bocornya informasi prosesi pembakaran tersebut ke masyarakat sehingga hal ini mengundang para warga tak mampu datang untuk menyelamatkan pakaian-pakaian tersebut dari kobaran api. Bayangkan, mereka nekat mengambil karung-karung pakaian ketika api sudah berkobar. Hal itu kan sungguh berbahaya bagi keselamatan mereka mengingat pakaian adalah bahan yang mudah terbakar. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan hati.
Pembakaran barang bukti tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti keputusan pengadilan negeri Raba, NTB. Saya tak paham apa yang mendasari keputusan pengadilan negeri tersebut. Mengaku saja kalau saya tak mengerti hukum, tapi apakah memang seluruh jenis barang bukti termasuk yang merupakan hajat hidup orang banyak seperti pakaian dan makanan memang harus dimusnahkan? Sementara banyak masyarakat kita yang memerlukannya. Tak bisakah dibuatkan berita acara atau apalah laporan/keterangan/surat serah-terima bahwa barang bukti tersebut telah disalurkan kepada pihak yang membutuhkan? Daripada terbakar sia-sia sementara masih banyak masyarakat yang membutuhkannya. Kenapa tidak disumbangkan saja kepada para korban bencana alam di Wasior, Papua yang saat ini sangat membutuhkan pakaian layak pakai?
Pikiran saya tak bisa menerima kesaklekan hukum seperti ini yang mungkin memang mewajibkan bahwa barang bukti harus dimusnahkan dalam waktu tertentu. Tapi khan saat ini banyak saudara-saudara kita yang kesusahan dan membutuhkannya. Tidak bolehkah ada pertimbangan lainnya yang dapat membuat barang bukti seperti pakaian tidak harus dimusnahkan?
Wednesday, October 20, 2010
Sunday, October 17, 2010
Ketika Sang Pemimpin Mencinta
Seminggu ini dunia dibuat haru biru oleh suatu aksi yang dilakukan seorang Presiden, asal Chili yaitu Bapak Sebastian Pinera. Saya pun begitu kagum, terpaku dan bahkan merinding melihat siaran langsung penyelamatan penambang ke-33 asal Chile tersebut.
Saya amati dengan lekat wajah Bapak Presiden, yang sungguh-sungguh menyiratkan perasaan harap-harap cemas menantikan munculnya penambang terakhir yang tengah diangkat ke permukaan. Sungguh wajah seorang pria yang mencinta, yang tengah kuatir menantikan orang yang dicintanya, yang dicemaskannya muncul dengan selamat ke permukaan. Saya telusuri seluruh lekuk di wajahnya, matanya, tak ada unsur kepura-puraan di sana. Benar-benar kecemasan dan harapan hadir di sana.
Benar saja, ketika penambang yang dinantikan muncul dan dikeluarkan dari kapsul penyelamat, Bapak Presiden memeluknya dengan erat, bagai menyambut sang anak yang telah lama hilang dan sangat dinantikan kedatangannya. Hampir menangis saya melihatnya, sungguh saya turut hanyut dalam kebahagiaan kedua makhluk Tuhan tersebut yang tengah berpelukan. Pemandangan yang sangat indah dan merasuk ke dalam jiwa saya.
Di tengah mereka juga hadir banyak orang yang turut menyaksikan kejadian tersebut, diantaranya keluarga dan sahabat para penambang tersebut. Mereka kemudian berpesta, setelah hampir 2 bulan mereka dicekam rasa kekuatiran akan nasib orang yang dikasihinya. Selama hampir 2 bulan mereka tinggal di 'perkemahan harapan' atau camp hope untuk memberikan dukungan kepada para pekerja yang tengah mengusahakan penyelamatan para penambang tersebut dan berdoa bersama, saling menguatkan.
Kehadiran Bapak Presiden di tengah-tengah mereka tentunya memberikan kekuatan tersendiri bagi usaha penyelamatan tersebut. Perhatian yang sangat besar, yang diungkapkan dalam mendukung usaha penyelamatan tersebut telah menyita perhatian dunia. Bagaimana tidak, bisa saja Bapak Presiden melakukan kegiatan lain, toh negaranya tanpa ke-33 orang tersebut masih memiliki populasi yang lumayan banyak yaitu sekitar 16.600 ribu penduduk. Dibalik kepopulerannya atas peristiwa ini Bapak Presiden sebenarnya juga sedang menghadapi permasalahan kelaparan di Selatan Chili oleh Suku Indian Mapuche yang tengah menyerukan kemerdekaan mereka dan kritik dari sebagian warga negaranya yang menyatakan bahwa Bapak Presiden terlalu lambat menangani pasca bencana gempa dan tsunami yang melanda Chili Februari lalu. Namun, semua permasalahan ini tidak menyurutkan langkahnya untuk menyatakan kepeduliannya atas apa yang sedang menimpa warganya yang penambang tersebut. Itulah cinta.
Kemudian pikiran saya melayang dan berhenti pada pemimpin negeri saya ini. Hmmm...tak saya lihat cinta di sana. Sedikit pun tak ada. Membuat saya miris. Ketika pada saat itu dikabarkan korban meninggal akibat banjir bandang di Wasior, Papua telah mencapai 60 orang (saat ini sudah 157 orang) pemimpin negeri saya tak bertindak apa-apa, malah asyik sibuk dengan pembelaan atas berita tidak jadinya ia ke negeri kincir angin. Ironisnya lagi, pemimpin negara lain sudah mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas bencana banjir yang menimpa negara saya ini, ia pun dalam bentuk pernyataan belum bertindak apa-apa. Pernyataan saja khan tak perlu waktu lama untuk membuat dan memberitakannya, namun mengapa saat itu tak kunjung ada. Benar-benar membuat saya kecewa sedalam-dalamnya.
Dasarnya lagi, negara saya ini, sebelum dikritik malah pemimpin saya itu sudah mengeluarkan ajian saktinya yaitu penyangkalan liwat anak buahnya. Belum lagi dibandingkan dengan Bapak Presiden Pinera, eh bisa-bisanya ada yang menyatakan bahwa Bapak Pinera justru yang meniru-niru tindakan presiden saya ini (lihat http://www.tribunnews.com/2010/10/15/apa-beda-bencana-wasior-dan-penyelamatan-penambang-cile). Bikin saya gemes, kok bisa-bisanya ada orang yang membela presiden tanpa cinta ini dengan membabi buta.
Memang membuat naik darah kalau membicarakan para pemimpin negara saya ini. Lebih baik saya berandai-andai memiliki Presiden seperti Bapak Pinera. Yang mungkin saja akan sangat stres memikirkan dan melakukan tindakan nyata atas korban meninggal akibat kecelakaan kreta api di Pemalang 2 minggu yang lalu, para TKI yang seringkali pulang teraniaya bahkan tanpa nyawa, para pengungsi di Nusa Tenggara Timur, banyaknya korban kecelakaan akibat mudik tahunan, dan juga korban kekerasan lainnya di negara saya ini. Andai saya memiliki seorang pemimpin yang dengan tulus mencinta...mencinta negeri ini dan SELURUH rakyatnya. Pastinya saya akan sangat bangga memilikinya, sama seperti perasaan banyak orang yang berkumpul di perkemahan harapan di layar televisi yang bangga akan sosok seorang pria tua dengan rompi dan helm keselamatan dengan raut wajah cemas ikut serta dalam penyelamatan warganya. Sang pemimpin yang mencinta warganya.
Saya amati dengan lekat wajah Bapak Presiden, yang sungguh-sungguh menyiratkan perasaan harap-harap cemas menantikan munculnya penambang terakhir yang tengah diangkat ke permukaan. Sungguh wajah seorang pria yang mencinta, yang tengah kuatir menantikan orang yang dicintanya, yang dicemaskannya muncul dengan selamat ke permukaan. Saya telusuri seluruh lekuk di wajahnya, matanya, tak ada unsur kepura-puraan di sana. Benar-benar kecemasan dan harapan hadir di sana.
Benar saja, ketika penambang yang dinantikan muncul dan dikeluarkan dari kapsul penyelamat, Bapak Presiden memeluknya dengan erat, bagai menyambut sang anak yang telah lama hilang dan sangat dinantikan kedatangannya. Hampir menangis saya melihatnya, sungguh saya turut hanyut dalam kebahagiaan kedua makhluk Tuhan tersebut yang tengah berpelukan. Pemandangan yang sangat indah dan merasuk ke dalam jiwa saya.
Di tengah mereka juga hadir banyak orang yang turut menyaksikan kejadian tersebut, diantaranya keluarga dan sahabat para penambang tersebut. Mereka kemudian berpesta, setelah hampir 2 bulan mereka dicekam rasa kekuatiran akan nasib orang yang dikasihinya. Selama hampir 2 bulan mereka tinggal di 'perkemahan harapan' atau camp hope untuk memberikan dukungan kepada para pekerja yang tengah mengusahakan penyelamatan para penambang tersebut dan berdoa bersama, saling menguatkan.
Kehadiran Bapak Presiden di tengah-tengah mereka tentunya memberikan kekuatan tersendiri bagi usaha penyelamatan tersebut. Perhatian yang sangat besar, yang diungkapkan dalam mendukung usaha penyelamatan tersebut telah menyita perhatian dunia. Bagaimana tidak, bisa saja Bapak Presiden melakukan kegiatan lain, toh negaranya tanpa ke-33 orang tersebut masih memiliki populasi yang lumayan banyak yaitu sekitar 16.600 ribu penduduk. Dibalik kepopulerannya atas peristiwa ini Bapak Presiden sebenarnya juga sedang menghadapi permasalahan kelaparan di Selatan Chili oleh Suku Indian Mapuche yang tengah menyerukan kemerdekaan mereka dan kritik dari sebagian warga negaranya yang menyatakan bahwa Bapak Presiden terlalu lambat menangani pasca bencana gempa dan tsunami yang melanda Chili Februari lalu. Namun, semua permasalahan ini tidak menyurutkan langkahnya untuk menyatakan kepeduliannya atas apa yang sedang menimpa warganya yang penambang tersebut. Itulah cinta.
Kemudian pikiran saya melayang dan berhenti pada pemimpin negeri saya ini. Hmmm...tak saya lihat cinta di sana. Sedikit pun tak ada. Membuat saya miris. Ketika pada saat itu dikabarkan korban meninggal akibat banjir bandang di Wasior, Papua telah mencapai 60 orang (saat ini sudah 157 orang) pemimpin negeri saya tak bertindak apa-apa, malah asyik sibuk dengan pembelaan atas berita tidak jadinya ia ke negeri kincir angin. Ironisnya lagi, pemimpin negara lain sudah mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas bencana banjir yang menimpa negara saya ini, ia pun dalam bentuk pernyataan belum bertindak apa-apa. Pernyataan saja khan tak perlu waktu lama untuk membuat dan memberitakannya, namun mengapa saat itu tak kunjung ada. Benar-benar membuat saya kecewa sedalam-dalamnya.
Dasarnya lagi, negara saya ini, sebelum dikritik malah pemimpin saya itu sudah mengeluarkan ajian saktinya yaitu penyangkalan liwat anak buahnya. Belum lagi dibandingkan dengan Bapak Presiden Pinera, eh bisa-bisanya ada yang menyatakan bahwa Bapak Pinera justru yang meniru-niru tindakan presiden saya ini (lihat http://www.tribunnews.com/2010/10/15/apa-beda-bencana-wasior-dan-penyelamatan-penambang-cile). Bikin saya gemes, kok bisa-bisanya ada orang yang membela presiden tanpa cinta ini dengan membabi buta.
Memang membuat naik darah kalau membicarakan para pemimpin negara saya ini. Lebih baik saya berandai-andai memiliki Presiden seperti Bapak Pinera. Yang mungkin saja akan sangat stres memikirkan dan melakukan tindakan nyata atas korban meninggal akibat kecelakaan kreta api di Pemalang 2 minggu yang lalu, para TKI yang seringkali pulang teraniaya bahkan tanpa nyawa, para pengungsi di Nusa Tenggara Timur, banyaknya korban kecelakaan akibat mudik tahunan, dan juga korban kekerasan lainnya di negara saya ini. Andai saya memiliki seorang pemimpin yang dengan tulus mencinta...mencinta negeri ini dan SELURUH rakyatnya. Pastinya saya akan sangat bangga memilikinya, sama seperti perasaan banyak orang yang berkumpul di perkemahan harapan di layar televisi yang bangga akan sosok seorang pria tua dengan rompi dan helm keselamatan dengan raut wajah cemas ikut serta dalam penyelamatan warganya. Sang pemimpin yang mencinta warganya.
Subscribe to:
Comments (Atom)